Cara Menghitung HPP dan Menentukan Harga Jual: Panduan untuk Toko Eceran & Grosir

Harga jual terlalu murah bikin rugi, terlalu mahal bikin pembeli kabur. Pelajari cara menghitung HPP per satuan, markup vs margin, dan harga dus vs eceran dengan contoh mudah.

Tim Kasirnusa 3 menit baca
Cara Menghitung HPP dan Menentukan Harga Jual: Panduan untuk Toko Eceran & Grosir

Menentukan harga jual sering dilakukan dengan cara "lihat harga warung sebelah". Hasilnya, ada barang yang ternyata dijual hampir sama dengan harga belinya — atau malah rugi tanpa disadari.

Artikel ini membahas cara menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) dan menentukan harga jual yang tetap untung, termasuk untuk barang yang dijual per dus dan per eceran.

Apa itu HPP?

Untuk toko eceran, HPP sederhananya adalah modal untuk mendapatkan satu satuan barang sampai siap dijual. Termasuk:

  • Harga beli dari supplier
  • Ongkos kirim atau biaya angkut (jika ada)
  • Potongan atau diskon dari supplier (mengurangi HPP)

Cara menghitung HPP per satuan

Contoh: Anda membeli 1 dus air mineral isi 24 botol seharga Rp48.000, dengan ongkos angkut Rp2.400 per dus.

  • Total modal per dus = Rp48.000 + Rp2.400 = Rp50.400
  • HPP per botol = Rp50.400 ÷ 24 = Rp2.100

Angka Rp2.100 inilah dasar menentukan harga jual per botol.

Markup vs margin: jangan tertukar

Dua istilah ini sering dianggap sama padahal berbeda:

Istilah Dihitung dari Rumus
Markup Harga beli (HPP) (Harga jual – HPP) ÷ HPP
Margin Harga jual (Harga jual – HPP) ÷ Harga jual

Contoh: HPP Rp2.100, dijual Rp3.000.

  • Markup = (3.000 – 2.100) ÷ 2.100 = 42,9%
  • Margin = (3.000 – 2.100) ÷ 3.000 = 30%

Kalau Anda ingin margin 30%, rumus harga jualnya: HPP ÷ (1 – 0,30) = 2.100 ÷ 0,7 = Rp3.000.

Harga dus vs harga eceran

Banyak toko menjual barang yang sama dalam beberapa satuan: per botol dan per dus, per bungkus dan per pak. Prinsipnya:

  • Harga per satuan besar (dus) boleh lebih murah per bijinya — karena perputarannya cepat dan pembeli membeli banyak sekaligus.
  • Tapi jangan sampai di bawah HPP.

Contoh lanjutan:

Satuan Isi Harga jual Harga per botol Margin
Botol 1 Rp3.000 Rp3.000 30%
Dus 24 Rp60.000 Rp2.500 16%

Penjualan per dus marginnya lebih kecil, tapi uang berputar lebih cepat. Keduanya tetap untung.

4 kesalahan umum saat menentukan harga

  1. Lupa memperbarui harga saat harga beli naik. Supplier menaikkan harga, tapi harga jual di toko masih harga lama.
  2. Tidak menghitung ongkos angkut. Biaya kecil per dus jadi besar kalau dikalikan ratusan dus.
  3. Memberi diskon tanpa menghitung margin. Diskon 10% pada barang ber-margin 12% hampir menghapus seluruh keuntungan.
  4. Menyamakan semua barang. Barang cepat laku (beras, minyak, telur) bisa margin tipis; barang jarang laku perlu margin lebih tebal.

Biar harga beli selalu terbaru

Di Kasirnusa, setiap kali Anda mencatat Pembelian dari supplier, harga beli produk otomatis diperbarui — dan dihitung per satuan dasar. Contoh: beli 1 dus isi 24 seharga Rp48.000, maka harga beli per botol tercatat Rp2.000.

Produk juga bisa punya satuan tambahan (misalnya Dus = 24 Pcs) dengan harga jual sendiri. Kasir cukup memilih satuannya, dan sistem akan menolak harga di bawah modal saat kasir mengubah harga manual — jadi tidak ada lagi penjualan rugi karena salah ketik.

Laporan Profit juga menunjukkan laba kotor dari setiap penjualan berdasarkan harga beli saat barang terjual.

Ringkasan

  • HPP = modal per satuan, termasuk ongkos angkut.
  • Bedakan markup (dari HPP) dan margin (dari harga jual).
  • Harga dus boleh lebih murah per biji, tapi tetap di atas HPP.
  • Perbarui harga setiap kali harga beli berubah.

Ingin harga beli dan laba tercatat otomatis? Coba Kasirnusa gratis 14 hari.

Artikel terkait